Berawal dari melatih konsentrasi, Riau Ega Salsabila melejit menjadi salah seorang bintang masa depan panahan Jatim. Dia diproyeksikan mewakili Indonesia di berbagai even internasional.
JARUM jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Namun, lapangan panahan GOR KONI Jatim masih sepi. Pelatih Denny Trisyanto lantas menelepon salah seorang di antara atletnya. Kepada yang ditelepon itu, dia mengingatkan harus memperbanyak porsi latihan karena ada kemungkinan dikirim ke kejuaraan dunia junior di Turki.
Setelah Denny menutup telepon, para pemanah muncul dari mes atlet di sudut belakang GOR. Mereka pun mulai membidik jarak-jarak tertentu. Salah satu di antara mereka adalah Riau Ega Agatha Salsabila. Dia latihan dengan jarak 70 m. “Baru bangun tidur, nih. Maklum, lagi puasa, jadi agak malas ngapa-ngapain,” kata pemuda 16 tahun tersebut lantas tertawa kecil.
Meskipun awalnya ogah-ogahan, ternyata Riau tekun juga kalau sudah menyandang busur dan anak panah. Setelah menyelesaikan satu set anak panah, dia langsung mengukur poin, lalu membidik lagi. Begitu terus tanpa henti. Rupanya, bayangan segera mencicipi even internasional memberikan suntikan motivasi kepadanya.
Riau mengaku kian tekun berlatih setelah melihat prestasinya sendiri. Karena sering menjadi juara, dia yakin bahwa masa depannya memang ada di panahan. Karir di bidang itu pun menjanjikan. “Bisa dibilang, saya sudah cinta mati sama panahan. Istilahnya, sudah jatuh bangun di sini. Jadi, sekalian saja diseriusi,” terang cowok yang akrab disapa Sinchan tersebut.
Padahal, dia mengatakan bahwa perkenalannya dengan panahan bukanlah inisiatif sendiri. Sang ibulah yang mendorong dia belajar memanah. Alasan sang ibu, olahraga tersebut baik sekali untuk melatih konsentrasi. “Kelas 4 SD, saya sudah dimasukkan ke klub panahan di kota saya,” kenang pemuda kelahiran Blitar itu.
Karena prestasinya bagus, pelatihnya di Blitar merekomendasikannya kepada Denny, pelatih yang sedang giat membina panahan Surabaya dan Jatim. Maka, sejak kelas 1 SMP, dia hijrah ke Kota Pahlawan demi memperdalam ilmu memanah.
Tangan dingin Denny terbukti mampu mengantarkan dia menjadi atlet junior andalan Jatim. Dia siap melapis para pemanah yang usianya sudah lebih dari 20 tahun, seperti Kuswantoro, Hendra Setiawan, dan IGNP Praditya Jati. Jika batal terjun di kejuaraan dunia junior di Turki 5 Oktober mendatang, sederet even kelas dunia sudah menantinya. Antara lain, Asian Archery Grand Prix pada akhir Oktober dan Universiade pada November.
Hal tersebut tentu tidak didapat dengan mudah. Latihan yang dia jalani sehari-hari cukup berat. Pagi hari, dia harus latihan fisik selama dua jam, dilanjutkan dengan membidik selama tiga jam. Sore, dia latihan lagi tiga jam. Total, dia latihan delapan jam sehari. “Tapi, kalau sekolah, saya nggak latihan siang,” jelas siswa kelas II SMA tersebut.
Menurut dia, porsi latihan berat itu punya keuntungan juga. Selain mengasah skill memanah, dia hampir terbebas dari penyakit lemah jantung yang pernah menderanya beberapa tahun lalu.
“Dulu, kalau beraktivitas agak berat, dada saya langsung sakit. Sekarang, sudah berkurang. Sebab, saya rajin latihan fisik,” tuturnya. “Memang belum sepenuhnya sembuh. Kalau latihan lari, baru dua putaran, pasti sakit. Tapi, jika dilanjutkan, sakitnya menghilang,” lanjut pemilik postur 172 cm/63 kg itu.
Dengan berbagai keuntungan yang dirasakan selama belajar panahan, hati Riau kian mantap menekuni olahraga tersebut. Obsesi pribadinya adalah meraih emas Olimpiade. Untuk sampai ke sana, tentu masih panjang jalan yang mesti dia tempuh.
“Tidak apa-apa, saya menikmatinya, kok. Saya senang merintis dari bawah, ikut even di mana saja. Apalagi, bertanding ke mana gitu, bisa sambil jalan-jalan,” ucapnya lantas tertawa. (ko)


haloo.. numpang lewat ya.. saya yang nulis artikel ini
Terima kasih mbak Nana atas tulisannya yang membangkitkan semangat tim panahan dan supportnya selama ini ke Perpani Jawa Timur.
Mudah-mudahan Panahan Jawa Timur terus menjadi barometer panahan di Indonesia.
Fajar asikin