Optimisme dibalik Paradoks Digital

Tak terasa sudah 17 tahun aku berkecimpung di dunia IT di Indonesia, sejak awal 1991 aku masuk ke USI/ IBM ( sebelum berubah menjadi IBM Indonesia ) melalui Cabang Surabaya dan bertahan hingga tahun 1996, kemudian mengawali salah satu ISP pertama Indonesia – RADNET hingga tahun 2000 membuatku cukup paham perkembangan teknologi informasi di Indonesia  pada umumnya dan Surabaya pada khususnya…bagaimana rasanya perusahaan sekelas IBM bisa memberikan satu solusi yang salah bagi para pelanggannya dan saya bisa merasakan bagaimana IBM menjadi salah satu produk yang tidak bisa lagi diterima oleh beberapa pelanggan besar di Jawa timur hingga beberapa tahun kemudian menjadi pengalaman yang tak terbayangkan, bagaimana sebuah perusahaan kelas duniapun bisa tergagap-gagap diterpa perubahan…oleh karena itu saya bersama tim secara perlahan harus memberikan satu pelayanan yang optimal kepada pelanggan kalau tidak mau dilindas oleh persaingan yang begitu keras di bidang Information Technology. Tak terbayang waktu itu bahwa notebook yang saat itu masih lebih mahal dari sebuah mobil ( mobil sedan bekas hanya sekitar Rp. 20 juta sedangkan notebook terbaik waktu itu sudah mencapai Rp. 25 juta.. ) akan menjadi semurah seperti sekarang ini.

Begitu pula pada saat mengawali Radnet Surabaya tahun 1996 dimana waktu itu akses internet 64 Kbps unlimited menggunakan ISDN masih mencapai Rp. 5 juta untuk sebuah Warnet, bahkan waktu itu tenaga ahli Radnet masih lebih pintar dari orang telkom untuk melakukan instalasi ISDN…sedangkan sekarang hanya dengan Rp. 200 ribu orang sudah bisa menikmati broadband internet sekelas speedy – pada kondisi bagus bisa mencapai 1 Mbps dengan penggunaan sekitar 40 jam…ataupun menggunakan IM2 broadband cukup membayar Rp. 350 ribu bisa menggunakan throughput sekitar 1,3 Mbps untuk penggunaan sebesar 1.5 Gb.

Kalau kita melihat bahwa mobil baru sekarang tidak ada yang nilai jualnya dibawah Rp. 100 juta, sementara notebook yang bagus cukup dibawah 10 juta ataupun server branded sekelas IBM, HP, SUn bisa didapatkan tidak lebih dari Rp. 25 juta rupiah…sebenarnya yang ada di benak saya sebagai konsultan adalah bahwa kita ini di Indonesia masih punya banyak sekali harapan untuk memperbaiki bangsa ini dengan cara yang lebih murah dan penyelesaiannyapun jauh lebih cepat. Saya masih ingat waktu saya melakukan sosialisasi internet atas undangan pondok pesantren Sidogiri yang belum meluncurkan sidogiri.com waktu itu oleh KH Mahmud Zein di Pasuruan, saya sempat di ingatkan salah seorang santri dalam sesi tanya jawab bahwa tidak ada gunanya memperkenalkan teknologi internet yang sangat dekat dengan maksiat seperti internet itu di pondok pesantren lha wong waktu itu TV saja masih belum boleh masuk kesana..alhamdulillah sekarang Pondok Pesantren Sidogiri sudah dikenal juga dengan Sidogiri.com-nya..

Coba saja, E-procurement yang dimiliki oleh pemkot Surabaya menjadi benchmark bagi instansi manapun di Indonesia pada saat ini, Samsat di Jawa Timur semakin tak terkejar dalam memberikan inovasi kepada wajib pajak mulai dari Samsat Drive thru, Samsat Link, SMS 7070, Samsat Delivery, Samsat Corner, Pemandu Simpatik dan terlihat bahwa sekaran aparat birokrasi pemerintahanpun menjadi bagian dari pengejawantahan dari pemahaman ayat Qur’an yang memerintahkan kita untuk selalu berlomba-lomba dalam hal kebaikan ( fastabiqul khoirat )…betapa senangnya kita bisa menjadi bagian sejarah tersebut.

Demikian pula dengan kemudahan Digital Printing yang membuat metode pencetakan tampilan digital ke berbagai media cetak semakin mudah dan cepat membuat tampilan warung-warung atau PKL menjadi semakin enak dilihat, Bahkan Jawa Pos-pun kalau dulu ikut terlibat dalam mempromosikan Inul dengan goyang ngebornya ternyata semakin banyak memberikan manfaat yang lebih nyata dengan “Green and Clean”, “Responsible Riding”, “Deteksi Basketball League”, bahkan dengan Jawa Pos News Network-nya Jawa Pos sekarang bisa menguasai Indonesia dari Sabang sampai Merauke melebih jangkauan kemampuan kendali kabinet presiden Indonesia manapun, dll…menurut saya itu semua bagian dari kemudahan dan penyerapan teknologi informasi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang nyata. Tentu saja yang harus masuk dalam pengamatan kita adalah betapa teknologi komunikasi kita dengan berbagai jaringannya memudahkan kita dimanapun kita berada menjadi begitu gampang berkomunikasi dengan siapapun dengan adanya telpon seluler yang relatif harganya sudah tak masuk akal lagi bukan karena mahalnya tetapi karena murahnya..

Masihkah kita merasa pesimis, kalau toh anggota dewan pada setiap jenjang, kota, provinsi, nasional belum banyak ditemukan anggota dewan yang bisa dijadikan saluran masyarakat untuk mengadukan berbagai persoalan bangsa, tetapi secara penilaian unit terkecil yaitu keluarga, tampak bahwa masyarakat yang terdidik makin lama semakin mandiri dan berdaya, saya yakin nanti profesi politikus pada masanya akan semakin dihargai sejalan dengan kualitas pribadi yang mereka miliki seperti pada profesi lainnya, sebagaimana profesi lainnya seperti dokter, dosen, wartawan, bahkan olahragawan, dan bukan lagi sebagai sekadar sebagai profesi elit yang bisa seenaknya mempengaruhi hajat hidup dan kehidupan orang banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s