LASKAR PELANGI

Dalam kaitan dengan liburan lebaran 5 Oktober, kita serombongan ber 10 melihat Film fenomenal ‘Laskar Pelangi’ di salah satu gedung bioskop di area MATOS kota Malang, karena tempat parkir yang sebetulnya lumayan besarpun tak cukup karena pengunjung yang padat malam itu, kita harus antri untuk bisa parkir dengan baik di atap gedung MATOS.
Kita sebenarnya ingin menonton siang hari film itu, namun antri jam 12 siang yang tersedia sudah tinggal jam 7 malam, hingga akhirnya anak-anak kita minta tidur siang supaya tidak sampai ketiduran di gedung bioskop maklum anak-anak yang masih berumur 4 dan 6 tahun biasanya jam 8 udah mulai mengantuk.
Sudah lama saya tidak nonton film, dan beberapa kali nonton film selalu bersama seluruh anggota keluarga – Petualangan Sherina, seri Harry Poter, Superman, dan terakhir setelah lebaran kemarin.

Film Laskar Pelangi adalah film keluarga berlatar belakang haru birunya perjuangan sebuah sekolah untuk mempertahankan keberadaannya karena selain idealismenya untuk menyediakan sekolah untuk orang miskin di wilayah Belitong, dan juga sekolah ini sudah diperingatkan oleh sang pengawas bahwa tanpa murid minimal 10 orang sekolah tersebut harus ditutup saat itu juga dan mirisnya pada saat jam penerimaan murid baru akan berakhir dan sang kepala sekolah terpaksa harus menutup sekolah karena hingga jam 11 siang murid baru berjumlah 9 orang, akhirnya bisa diselamatkan oleh satu murid baru – Harun yang bergabung ke sekolah tersebut meskipun kondisi mentalnya sangat tertinggal.

Dari sini cerita mengalir terus secara menarik, saya terus terang belum membaca tetralogi buku karangan Andrea Herata ini, tetapi saya bisa menikmatinya karena memang kualitas penggarapan film Riri Riza dan Mira Lesmana ( beberapa dari sineas muda genius di Indonesia ) termasuk yang bisa mengolah perasaan penonton untuk tertawa, terpesona dengan pemandangan alam pesisir pantai di belitong, tetapi juga sekaligus sedih, trenyuh, bahkan tak sedikit penonton ikut menangis menyaksikan film ini.

Ini adalah film yang dikemas tidak saja dari sisi bisa dinikmati penonton karena hingga sekarang ini jumlah penontonnya melebihi perkiraan awalnya, tetapi juga berarti sangat memahami managemen pemasaran mulai dari kosongnya film baru khusus anak-anak di masa liburan sekolah dan lebaran, orang punya duit setelah terima THR, temanya memang relevan dengan kondisi pendidikan Indonesia yang masih carut marut, kebobrokan para politisi untuk melakukan kebijakan pro rakyat, ketidaksiapan birokrasi pemerintahan untuk merealisir dorongan UU Pendidikan untuk merealisir komitmen 20% anggaran pemerintah untuk bidang pendidikan, maupun terkait banyaknya pilkada di berbagai daerah yang menjanjikan banyak perubahan namun setelah menjadi pejabat tidak mampu mewujudkan janjinya. Dan kalau kita lihat kerangka waktunya terlihat bahwa tahun 1979 belumlah terlalu lama dan sudah menginjak masa 34 tahun Indonesia merdeka ataupun hampir 30 tahun yang lalu karena di Jawa tahun-tahun seperti itu sekolah sudah jauh lebih baik, jadi film ini sangat relevan untuk para politikus untuk lebih menyadari realita masyarakat karena rasanya kondisi sekolah seperti itu masih ada dan berserakan di seluruh Indonesia hingga sekarng.

Film ini basis pemikiran maupun spiritualnya Islam karena menyandang nama SD Muhamadiyah, tetapi saya yakin akan bisa dinikmati oleh pemeluk agama apapun. Film ini layak ditonton oleh semua orang bahkan kalau dalam bahasa bisnis ini sifatnya MANDATORY bukan sekedar A MUST terutama yang memiliki fungsi penentu kebijakan agar lebih sensitif dengan kondisi real di masyarakat, dan dari sisi pemasaran ini adalah kekuatan Muhamadiyah untuk memberikan satu komitmen yang jelas terhadap pendidikan di Indonesia lewat pendekatan budaya, tepat disaat tokoh Muhamadiyah banyak menjadi tokoh pendidikan di Indonesia, saya percaya bahwa kekuatan iman akan mampu memberikan yang terbaik kepada lingkungan sekitarnya bukan sekedar sekolah yang ditopang oleh kekuatan dana semata, saya kira proses perjuangan sekolah-sekolah unggulan berbasis agama yang saat ini ada di Indonesia rasanya akan mirip kalau kita bisa memvisualisasikannya dalam bentuk film sedahsyat ini.
Selamat kepada para sineas Indonesia, selamat pada para pemain alam dari tanah belitong yang telah begitu baik memerankan tokoh-tokoh utama dalam ‘ laskar pelangi’. Dan tentu saja proficiat untuk Andrea Herata – tokoh sastra Indonesia yang mengaku tidak membuat buku sastra tetapi ternyata karya-karyanya bisa dihargai oleh lingkungan sastrawan Indonesia.

Satu pemikiran pada “LASKAR PELANGI

  1. saya merasa sangat gembira dan senang,karna novel laskar pelangi yang tlah’ di terbitkan.apalagi lagunya yang bikin saya slalu mo iktan…………………………………..terus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s